Sabtu, 06 Juni 2009

Puisi dari hati untuk alam semestaku...

Bermain sebagai tuhan…
Oleh: Narendra Hutomo
Jakarta, 1 April 2009

Tuhan menciptakan alam,
hanya dalam sekejap,
tak sampai semalam,
tetapi apa maksud dari keagungan-Nya itu?

Tuhan mengakhiri kehidupan di alam,
hanya seperti meremas selembar kertas,
semua yang diciptakan-Nya pun musnah binasa,
namun,
apa hikmah dari bak karya seni-Nya itu?

Tumbuhan pertama yang menjatuhkan adam dan hawa ke bumi tercipta,
makhluk hidup pertama pun ikut tercipta,
tetapi makhluk purba pun mencapai titik akhirnya,
manusia akhirnya menginjak bumi…

Kaum adam dan hawa menyatu dengan mudah,
dengan godaan nafsu dan nasihat-nasihat dari hati nurani kita...
Kaum lelaki pun punah,
kaum wanita akhirnya menguasai muka bumi...

Apakah ini sebuah ilusi dari alam yang telah menghipnotis kita?
Atau apakah ini sifat ironis dari alam semesta?
Masih banyak udang yang bersembunyi dibalik batu,
yaitu bibit dari tumbuhnya alam semesta...

Lingkungan itu sebenarnya surga dunia,
hanya saja surga itu menyatu dengan neraka yang dipenuhi oleh orang-orang berpandangan sesat...
Kadang nikmat membubuhi kita dengan kebahagiaan,
Tetapi tatkala musibah juga ikut menimpa dengan kesedihan…

Tetapi,
surga dan neraka itu sudah tak nampak...
Lingkungan telah berada di sebuah posisi dimana dia lebih rendah dari tanah,
dan juga lebih rendah dari kabut-kabut pada awan yang tinggi dimana garuda berterbangan...

Ia sudah tidak kuat lagi menanggung rasa malunya,
satu hal yang ia pikirkan: Lebih baik mati dari pada hidup terhina, ternodai, dan tercela...
Pikirannya pun sudah kacau,
sama seperti inti bumi yang panasnya sudah tidak teratur pula menyebabkan burung-burung yang berterbangan jatuh tak bernyawa dengan anehnya...
Mengapa ini semua terjadi?

Sekarang,
Manusia pun bertindak sebagai Tuhan yang dianggap semata-mata keagungannya...
Mereka pun bagai kumpulan dewan Tuhan yang berdebat mengenai perencanaan penciptaan alam semesta...
Dan apa sebenarnya hasil dari pertikaian yang tidak masuk akal ini?

Terciptalah bumi yang berbeda,
Saturnus yang berbeda jua dengan cicinnya yang terbuat oleh bintang-bintang melainkan kumpulan asteroid...
Bumi pun tercipta tanpa oksigen menyebabkan kepala manusia yang pecah tak karuan bagai telur yang pecah terkaplah ketika terjatuh dari panci...

Tidak adanya air pun menyiksa keberadaan makhluk hidup,
Menyebabkan mereka kering…
Bahkan yang mereka harapkan adalah kelembapan udara yang padahal panasnya,
aduhai…
Manusia pun menuntut Tuhan-tuhan yang tidak becus ini bagai reformasi seluruh alam semesta…

Lingkungan sudah sekarat,
memuntahkan begitu banyak darah…
Dokter pun dipanggil untuk menyelamatkannya,
Tapi berapa persenkah harapan yang dapat diperhitungkan akan keselamatannya?

Mungkin ada sebuah harapan,
tetapi harapan tersebut bagai semut yang menggali sumur…
Tidak ada seorang pun yang melihatnya,
tetapi pasti akan ada yang mengetahuinya…

Sewaktu-waktu,
Suatu saat,
Suatu tempat,
Suatu sejarah…

Moral dari ocehan ini yang membuat mulut seseorang berbusa dan memar bagai tersengat lebah: Jangan bermain sebagai tuhan…

Penulis,

Narendra Hutomo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar